..:: Cebisan Kenangan ::..

Saturday, December 19, 2009

..::Luluh Hati dengan Kesantunan Nabi::..

Angin gurun yang gersang menerpa ke dalam udara Madinah yang mula sejuk. Abu Abbas r.a seorang sahabat setia Rasulullah SAW duduk merenung.Cintanya pada Rasulullah begitu besar.Sedangkan imannya dirasakan terlalu tipis untuk dapat menanggung duka berpisah dengan orang yang dicintai yaitu Rasulullah. Abu Abbas terkenang bagaimana ia mula-mula ia tertarik untuk memeluk Islam.

Satu demi satu musuh gugur di bawah debu peperangan.Keberanian mereka hancur.Semangat mereka untuk berperang kian redup.Yang tinggal hanyalah ketakutan dan kehilangan kepercayaan diri sendiri.Sehingga dalam waktu yang singkat,musuh terdesak mundur dan akhirnya masing-masing lari untuk menyelamatkan diri.Dari atas bukit Uhud,Abu Abbas melihat Rasulullah perlahan-lahan kembali memegang komando perang.Seluruh angota tentara coba mengejar tentara Quraisy yang bertempiaran lari ketakutan. Tetapi sungguh mengagumkan dan menghairankan,Rasulullah mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar mereka menghentikan pengejaran dan memerintahkan pedang dan panah diletakkan kembali ke sarungnya. Di tengah-tengah kejayaan itu Rasulullah lalu menyerukan satu peringatan, Firman Allah SWT yang maksudnya :

"Bahawasanya perangilah Karena Allah orang-orang yang memerangi kamu sahaja dan jangan kamu lakukan dengan berlebihan.Karena Allah tidak menyukai kamu yang melampaui batas" (Al Baqarah : 190)

Adakah kemuliaan yang lebih agung dari sikap yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah SAW? Dengan kemenangan tersebut baginda masih mampu mengendalikan diri dan suasana serta memberi kemaafan. Padahal Sayidina Hamzah,Bapa Saudaranya terbunuh dalam keadaan aniaya.Padahal sahabat terdekat baginda berguguran di tangan musuh dengan kejamnya. Tujuh puluh orang telah gugur di medan perang.Namun Rasulullah tidak bersikap membalas dendam dengan menghancurkan semua musuh yang tidak berdaya.

"Adakah dimuka bumi ini orang yang akhlaknya semulia pekerti Nabi Muhammad
SAW?"Bisik hati Abu Abbas ketika itu.

Abu Abbas berdiri kaku di puncak gunung batu.Hatinya yang keras sekeras batu karang mula cair dan lembut.Bukan oleh terik padang pasir yang mendidih.Tetapi oleh kelembutan hati pemimpin yang yang tetap senyum meskipun wajahnya berlumuran darah.Yang menatap ramah walaupun pipinya luka terkena senjata musuh.Kasih Abu Abbas semakin subur kepada Rasulullah menyaksikan jiwa dan hati baginda begitu besar dan lapang. Ini terpancar semasa baginda berdepan dengan Abdullah bin Ubai yang terkenal sebagai pemimpin kaum munafiq.

Semasa akhir hayatnya, Abdullah Bin Ubai ditimpa sakit keras. Dengan bibir gemertar yang semakin membiru,Abdullah bin Ubai meminta kepada anaknya agar dipanggilkan Rasulullah.Ia ingin didoakan oleh Rasulullah.Abu Abas yang menyaksikan peristiwa itu beranggapan mustahil Rasulullah mahu datang menemui tokoh munafiq tersebut.Ternyata dugaan Abu Abbas meleset,.Rasulullah datang bersama Umar Al Khattab.Kepada Rasulullah ,Abdullah bin Ubai memohon agar baginda bersedia melepaskan jubahnya dan menyelimuti dengan jubah tersebut.Kalau pun dengan berselimut jubah itu tidak juga menyembuhkan penyakitnya,Abdullah masih berharap biarlah ia mati dengan berselimutkan jubah Rasulullah.Dengan penuh kasih sayang Rasulullah menunaikan permintaan Abdullah bin Ubai.Sehinggalah akhirnya Abdullah meninggal dunia dalam penderitaan dan kesakitan dibawah jubah Rasulullah. Peristiwa itu membuat Sayidina Umar tertanya-tanya.Ia tidak menyangka Rasulullah akan berbuat sejauh itu terhadap ketua munafiq yang telah banyak menabur fitnah dan perpecahan dikalangan umat Islam. " Alangkah beruntungnya Abdullah bin Ubai,Ia meninggal dunia dengan berselimutkan jubah baginda yang suci.Para sahabat yang setia pun belum tentu mendapat keistimewaan itu"ucap Umar.

Rasulullah tersenyum penuh kearifan dan kasih sayang .Dengan nada yang lembut baginda menjawab:
"Sahabat ku Umar, Sesungguhnya jubah Rasulullah tidak akan menyelamatkan Abdullah Bin Ubai atau sesiapa sahaja sebab manusia hanya selamat oleh iman dan taqwa masing-masing." Ucapan Rasulullah itu meninggalkan kesan yang dalam pada diri Abu Abbas dan ucapan itu perlu menjadi azimat dan ingatan kepada umat sepanjang zaman.

No comments: